dalam Al Imron 186 Allah berfirman “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disemurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Ayat ini mengingatkan bahwa dunia adalah hal yang bersifat sementara, sedangkan mati dan kehidupan setelah mati (akherat) adalah hal yang pasti. Di akherat cma ada dua hal, masuk surga dengan segala kenikmatan di dalamnya yang luar biasa atau neraka dengan siksaan di dalamnya yang mengerikan. Kita akan masuk mana, ditentukan dari amal ibadah kita selama di dunia.
dalam sebuah hadist
Dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda menyampaikan apa yang diterimanya dari Allah Azza wa Jalla. Dia berfirman, “Sesungguhnya Allah mencatat semua amal kebaikan dan keburukan.” Kemudia Dia menjelaskan; Maka barangsiapa tlah berniat untuk berbuat suatu kebaikan tetapi tdk melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu amal kebaikan. Jika ia berniat baik lalu melakukannya, maka Allah mencatatnya berupa sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan masih dilipatgandakan lagi. Dan barangsiapa berniat amal keburukan tetapi tidak melakukannya, Allah akan mencatatnya sebagai satu amal kebaikan yang utuh, dan bila ia berniat dan melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu amal keburukan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sungguh Allah sangat menyayangi kita, di hari penimbangan nanti jumlah amal baik kita dikalikan 10, 700, dan lebih lagi, sedangkan amal buruk kita cuma dkali 1. Namun amal-amal kita sebagian besar masih tidak cukup untk mengalahkan amalan buruk kita. Karena kalau coba kita evaluasi diri, maka pastilah kita temukan bahwa amal buruk kita selama sehari itu lebih banyak dari amal baik, mulai dari kufur nikmat, riya’, dan seterusnya
Read it all..

Pada suatu waktu. Terjadi peristiwa yang cukup unik. Seorang siswa cerdas (mantan peserta OSN) gagal lolos dalam SMPTN dan ada lagi seseorang yang sudah langganan juara kelas gagal pula dalam SMPTN. Sementara justru si A yang biasa-biasa aja bisa lolos SMPTN dan masuk ke PTN favorit. Mengapa ya hal seperti itu bisa terjadi?
